Ingatkah bagaimana suasana menjelang bulan puasa dulu di Arun?
Masjid Istiqamah Arun — pusat kebersamaan warga komplek selama bulan Ramadhan.
Bagi banyak dari kami yang tumbuh di kompleks PT Arun, Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender. Ia datang membawa rangkaian tradisi, kebersamaan keluarga, dan kenangan masa kecil yang hingga kini masih terasa hangat setiap kali diingat.
Segalanya selalu diawali dengan Meugang — tradisi khas Aceh yang menjadi penanda bahwa bulan suci telah di depan mata. Sehari sebelum puasa dimulai, suasana berubah. Pasar atau Pajak menjadi lebih ramai dari biasanya. Ibu-ibu menyiapkan waktu khusus untuk berbelanja, sering ditemani ayah atau anak-anak yang ikut merasakan kesibukan itu.
Daging sapi menjadi pusat perhatian. Hampir setiap keluarga membeli dalam jumlah besar, seolah telah menjadi kewajiban tak tertulis. Dari dapur-dapur rumah kemudian lahir berbagai masakan khas: rendang, sop daging sapi, kuah lemak, lengkap dengan tauco, emping, dan sayur khas Aceh. Aroma masakan menyebar ke seluruh kompleks, menandai bahwa Ramadhan benar-benar akan dimulai.
Hari pertama sahur selalu terasa istimewa. Meja makan dipenuhi anggota keluarga yang duduk rapi dan lengkap. Saat itu terasa biasa saja, namun kini justru menjadi kenangan paling romantis — terutama ketika di tahun-tahun berikutnya ada kursi yang mulai kosong.
Ayah biasanya memimpin niat puasa, menuntun kami mengucapkannya bersama:
Kalimat sederhana yang perlahan menjadi bagian dari memori masa kecil.
Ramadhan di Arun juga berarti libur sekolah sebulan penuh. Setelah salat subuh, anak-anak bermain sepeda atau sepatu roda di jalan kompleks — tidak terlalu jauh agar tidak cepat haus. Siang hari diisi tidur, membaca buku agama, atau menunggu waktu bergerak lebih cepat menuju sore.
Menjelang berbuka, hiburan favorit hadir dari kaset VHS. Film kartun, komedi Ateng-Iskak, Warkop DKI, hingga Benyamin menjadi teman setia menahan lapar. Satu jam sebelum magrib, kami sering menuju Bukit Pole, memandang kompleks Arun, kilang LNG, dan laut lepas yang luas. Kadang kapal tanker terlihat melintas perlahan di kejauhan.
Lalu tibalah momen yang paling ditunggu.
“Ngeeeeeeng…”
Suara panjang sirene dari kantor pemadam kebakaran menggema ke seluruh kompleks. Anak-anak bersorak — tanda satu hari puasa berhasil dilalui.
Namun cerita Ramadhan di Arun belum selesai ketika malam tiba.
Masjid Istiqamah menjadi pusat kehidupan malam. Bangunannya tampak lebih bersih dan tertata, menyambut jamaah yang datang untuk salat tarawih. Suasana religius terasa hangat dan damai.
Bagi anak-anak, tarawih memiliki cerita tersendiri.
Saat salat berlangsung, barisan masih terlihat tertib. Tetapi begitu masuk sesi ceramah, kegelisahan mulai muncul. Satu per satu ada yang pura-pura izin ke toilet, lalu diam-diam berkumpul di pelataran masjid mencari teman mengobrol.
Awalnya tenang. Lalu terdengar cekikikan kecil. Tak lama kemudian berubah menjadi kejar-kejaran ringan — tentu saja di luar area masjid, karena kami tetap tahu batas adab.
Beberapa bapak-bapak mulai melirik dengan was-was, khawatir anaknya ikut nimbrung dalam kelompok yang semakin ramai. Petugas masjid berkali-kali mengingatkan agar tetap tertib. Namun namanya juga anak-anak; jika sudah berkumpul selalu saja ada cerita lucu yang membuat tawa sulit dihentikan.
Tokoh yang paling kami ingat adalah Ustad Amin.
Beliau terkenal dengan “senjata” khasnya: sebuah karet kecil yang siap menjepret anak-anak yang terlalu berisik. Ketika suara obrolan dianggap mengganggu jamaah, karet itu melayang ke arah kami. Kadang tepat sasaran, tapi sering juga meleset — dan justru membuat kami semakin tertawa.
Alih-alih suasana menjadi tenang, pelataran masjid kadang berubah menjadi arena jepret-jepretan kecil yang penuh tawa. Bagi kami saat itu mungkin terasa usil, tetapi kini justru menjadi kenangan paling hangat tentang masa kecil.
Tentu tidak semua anak seperti itu. Ada juga yang duduk rapi di saf depan, dekat ayahnya, tampak alim dan tenang. Sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa Ramadhan di Arun memiliki banyak warna — dari kekhusyukan hingga keceriaan masa kanak-kanak.
Kini waktu telah membawa banyak dari kita jauh dari Arun. Namun setiap Ramadhan datang, ingatan itu seolah kembali hidup: aroma Meugang, meja sahur keluarga, jalan kompleks yang tenang, hingga tawa anak-anak di pelataran Masjid Istiqamah.
Arun mungkin telah berubah. Tetapi Ramadhan di sana tetap tinggal — utuh di dalam ingatan.
Monumen PT Arun Aceh Utara kawasan industri Arun Lhokseumawe
Ensiklopedia Alumni Arun lahir dari sebuah kerinduan yang sederhana namun mendalam: menjaga ingatan tentang masa yang pernah membentuk begitu banyak kehidupan. Arun bukan sekadar nama tempat atau kawasan industri, tetapi sebuah ruang tumbuh yang menyatukan generasi dalam pengalaman belajar, persahabatan, dan perjalanan hidup yang tak terlupakan.
Pada masanya, kawasan Arun di Aceh Utara dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas industri dan pendidikan yang berkembang pesat di Indonesia. Kehadiran berbagai fasilitas pendidikan, lingkungan hunian yang tertata, serta kehidupan sosial yang dinamis menjadikan Arun sebagai rumah kedua bagi ribuan keluarga dari berbagai daerah di Nusantara. Anak-anak tumbuh bersama, bersekolah di tempat yang sama, bermain di jalan yang sama, dan membangun ikatan yang melampaui sekadar pertemanan biasa.
Sekolah-sekolah di Arun menjadi titik awal terbentuknya identitas sebuah generasi. Di ruang kelas sederhana namun penuh semangat, para siswa belajar bukan hanya tentang pelajaran akademik, tetapi juga tentang nilai kebersamaan, disiplin, dan rasa saling menghargai. Guru-guru yang mengabdi dengan sepenuh hati meninggalkan jejak yang kuat dalam ingatan para muridnya, membentuk karakter yang kelak terbawa hingga dewasa.
Kehidupan sehari-hari di Arun memiliki warna tersendiri. Setelah jam sekolah usai, anak-anak berkumpul di lapangan, taman, atau sudut-sudut perumahan untuk bermain dan berbagi cerita. Aktivitas olahraga, kegiatan seni, hingga perayaan-perayaan komunitas menjadi bagian dari ritme kehidupan yang mempererat hubungan antar keluarga. Tidak ada sekat latar belakang daerah ataupun budaya; semua melebur dalam satu identitas bersama: keluarga besar Arun.
Seiring berjalannya waktu, perubahan tidak dapat dihindari. Dinamika ekonomi dan perkembangan industri membawa transformasi besar bagi kawasan Arun. Banyak keluarga yang kemudian berpindah ke berbagai kota bahkan negara, melanjutkan perjalanan hidup masing-masing. Namun meskipun jarak memisahkan, kenangan tentang Arun tetap hidup dalam hati para alumninya.
Dari sinilah gagasan untuk membangun Ensiklopedia Alumni Arun mulai tumbuh. Ide ini muncul sebagai upaya mendokumentasikan sejarah kolektif yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan pribadi. Cerita-cerita lama, foto-foto berharga, serta kisah perjalanan alumni menjadi bagian penting yang perlu dirawat agar tidak hilang ditelan waktu.
Ensiklopedia ini bukan sekadar kumpulan data atau arsip nostalgia. Ia adalah ruang bersama untuk merangkai kembali potongan-potongan sejarah yang tersebar di berbagai generasi. Setiap alumni memiliki cerita unik: tentang masa kecil, perjuangan belajar, persahabatan, hingga perjalanan karier setelah meninggalkan Arun. Ketika cerita-cerita tersebut disatukan, terbentuklah sebuah mosaik kehidupan yang kaya dan bermakna.
Melalui platform digital ini, generasi lama dapat mengenang kembali masa lalu, sementara generasi muda dapat memahami akar sejarah komunitasnya. Ensiklopedia Alumni Arun diharapkan menjadi jembatan lintas waktu—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu narasi besar tentang kebersamaan.
Lebih dari sekadar dokumentasi, proyek ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada semua pihak yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Arun: para guru, orang tua, pekerja, dan seluruh masyarakat yang membangun lingkungan penuh nilai dan kenangan tersebut.
Hari ini, ketika dunia bergerak semakin cepat dan memori sering kali terlupakan, Ensiklopedia Alumni Arun hadir sebagai pengingat bahwa sejarah tidak selalu tercatat dalam buku besar negara. Kadang, sejarah hidup dalam cerita sederhana tentang sekolah, sahabat, dan tempat yang pernah kita sebut sebagai rumah.
Dan bagi para alumni, Arun akan selalu lebih dari sekadar sebuah lokasi di peta. Ia adalah bagian dari identitas, bagian dari perjalanan hidup, dan bagian dari cerita yang terus dilanjutkan oleh setiap generasi.